Pernahkah Anda merasa sangat tertekan sehingga mulut terus-menerus ingin mengunyah? Walaupun baru saja selesai makan, Anda mungkin merasa teringin untuk mencari kudapan manis atau masin. Ini bukan sekadar “lapar biasa”, tetapi bisa jadi tanda bahwa hormon kortisol Anda tinggi akibat stres.
Hubungan Stres, Kortisol & Craving: Fakta Sains di Sebaliknya
Ketika kita mengalami stres, tubuh akan menghasilkan kortisol. Hormon ini dikenal sebagai hormon “fight or flight” yang membantu tubuh bersedia menghadapi tantangan. Namun, jika kortisol terus-menerus tinggi, ia bisa membawa masalah yang lebih besar.
Menurut kajian dari Physiology & Behavior, stres akut dapat meningkatkan keinginan untuk makan makanan yang manis, berlemak, dan berkalori tinggi. Ini karena otak menganggap makanan tersebut sebagai “reward” yang dapat meredakan perasaan stres sementara. Kajian ini juga menemukan bahwa peningkatan kortisol berkaitan dengan keinginan makan yang lebih tinggi dan pengambilan kalori yang berlebihan, terutama pada individu yang memiliki berat badan berlebihan atau obesitas.
Kortisol yang berlebihan juga dapat menyebabkan:
- Peningkatan selera makan secara keseluruhan.
- Craving yang kuat untuk makanan tinggi gula dan lemak.
- Penimbunan lemak yang lebih mudah, terutama di bagian perut.
Mekanisme Kortisol Menaikkan Berat Badan:
- Peningkatan Selera Makan dan Craving: Kortisol yang tinggi memicu keinginan kuat untuk makan makanan tinggi gula, lemak, dan berkalori tinggi. Makanan ini memberikan rasa “reward” sementara kepada otak, tetapi pada dasarnya hanya menambah kalori kosong dan memicu siklus craving yang sulit dihentikan.
- Gangguan Metabolisme dan Penyimpanan Lemak: Kortisol berlebihan dapat mengganggu metabolisme tubuh dan memicu penimbunan lemak, terutama di bagian perut. Lemak perut atau lemak visceral ini lebih berbahaya karena menyelaputi organ dalaman dan meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung.
- Peningkatan Gula Darah: Kortisol berperan dalam pelepasan glukosa ke dalam darah untuk memberikan energi saat stres. Jika kortisol tinggi terus-menerus, gula darah juga akan terus meningkat, yang dapat menyebabkan resistensi insulin dan penumpukan lemak.
Kajian dari University of Ohio pada tahun 2015 menemukan bahwa individu yang mengalami stres membakar kalori lebih sedikit dan memiliki tingkat insulin lebih tinggi, yang berdampak langsung pada penumpukan lemak, terutama di area perut.
Tanda-Tanda Kortisol Tinggi
Memahami tanda-tanda kortisol tinggi adalah langkah pertama untuk mengawalinya. Kortisol, yang sering disebut “hormon stres,” membantu tubuh Anda menghadapi ancaman. Namun, jika kadarnya terlalu tinggi dalam jangka panjang, ia boleh menyebabkan pelbagai masalah kesihatan.
Berikut adalah tanda-tanda yang mungkin menunjukkan kadar kortisol Anda tinggi:
Tanda-tanda Fizikal
- Kenaikan Berat Badan: Peningkatan berat badan, terutama di sekitar bahagian perut, muka (moon face), dan di bahagian belakang leher atau bahu (buffalo hump), adalah salah satu tanda paling ketara.
- Perubahan Kulit: Kulit menjadi nipis dan mudah lebam. Anda juga mungkin melihat garisan regangan (stretch mark) berwarna ungu atau kemerahan di perut, paha, atau payudara. Jerawat juga boleh muncul.
- Kelemahan Otot: Anda mungkin merasa lemah dan otot menjadi lebih kecil atau mengecut.
- Tekanan Darah Tinggi: Kortisol yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, yang berisiko menyebabkan penyakit jantung.
- Gula Darah Tinggi: Kortisol meningkatkan gula dalam darah untuk memberikan energi, namun jika ia terus-menerus tinggi, ia boleh menyebabkan resistensi insulin dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
- Siklus Menstruasi Tidak Teratur: Pada wanita, kadar kortisol tinggi boleh mengganggu kitaran haid atau menyebabkannya terhenti.
Tanda-tanda Emosi dan Mental
- Mudah Marah dan Cemas: Anda mungkin menjadi lebih mudah marah, cemas, atau mengalami depresi.
- Masalah Tidur: Kortisol yang tinggi pada malam hari boleh mengganggu pola tidur Anda, menyebabkan insomnia atau tidur yang tidak nyenyak.
- Gangguan Ingatan: Anda mungkin mengalami kesulitan untuk fokus atau mengingat sesuatu.
Tanda-tanda di atas boleh menjadi petunjuk awal kadar kortisol tinggi. Jika anda mengalami beberapa gejala ini secara berterusan, adalah baik untuk berbincang dengan doktor untuk diagnosis dan rawatan yang tepat. Pengurusan stres yang efektif, diet seimbang, dan gaya hidup aktif adalah kunci untuk mengawal kadar kortisol dan mengelakkan kesan negatifnya pada kesihatan.

Solusi Holistik: Diet dan Gaya Hidup untuk Menurunkan Kortisol
Mengatasi kortisol tinggi dan craving tidak cukup hanya dengan satu cara. Anda perlu mengambil pendekatan holistik dengan menggabungkan diet yang sehat dan perubahan gaya hidup.
Diet untuk Mengawal Kortisol dan Craving:
- Makanan Kaya Magnesium: Magnesium dikenal sebagai “mineral relaksasi”. Makanan seperti alpukat, pisang, cokelat gelap, dan brokoli dapat membantu menenangkan sistem saraf dan mengurangi kortisol.
- Asid Lemak Omega-3: Omega-3 dalam ikan berlemak seperti salmon, serta kacang-kacangan dan biji-bijian, dapat membantu mengurangi peradangan dan menstabilkan suasana hati, yang pada gilirannya menurunkan respons stres.
- Probiotik: Bakteri baik dalam usus memiliki hubungan langsung dengan otak (gut-brain axis). Konsumsi makanan kaya probiotik seperti yogurt dan kombucha dapat membantu meningkatkan kesehatan usus dan mengelola stres.
- Batasi Gula dan Kafein: Makanan dan minuman tinggi gula dapat memicu lonjakan gula darah dan respons kortisol. Begitu juga dengan kafein berlebihan, terutama di sore atau malam hari, yang dapat mengganggu pola tidur dan meningkatkan hormon stres.
Gaya Hidup untuk Mengurangkan Stres:
- Tidur yang Cukup: Kurang tidur meningkatkan kortisol. Pastikan Anda tidur 7-8 jam setiap malam untuk membantu tubuh pulih dan menyeimbangkan hormon.
- Olahraga Ringan: Lakukan olahraga seperti berjalan kaki, yoga, atau meditasi. Olahraga berat dapat meningkatkan kortisol jika dilakukan berlebihan, jadi pilihlah aktivitas yang menenangkan.
- Latihan Pernapasan: Teknik pernapasan dalam dapat menenangkan sistem saraf dan membantu mengawal respons stres dengan cepat.

Cinch Tea: Gabungan Herba untuk Mengatasi Masalah Stres
Sebagai pelengkap kepada gaya hidup sihat, Cinch Tea diformulasikan dengan gabungan herba semula jadi yang telah digunakan sejak dulu untuk meningkatkan fokus, energi, dan membantu menyeimbangkan hormon stres.
Beberapa testimoni pengguna Cinch Tea Shaklee melaporkan bahwa minuman ini tidak hanya membantu meningkatkan energi dan mengatasi rasa mengantuk, tetapi juga efektif dalam mengendalikan craving untuk makanan tidak sehat. Dengan mengawal craving, mereka dapat menghindari pengambilan kalori berlebihan yang sering menjadi punca kenaikan berat badan.
Bahan-bahan utama dan kajian di sebaliknya:
- Teh Hijau (Green Tea): Mengandungi L-theanine, sejenis asam amino yang membantu menenangkan otak tanpa menyebabkan rasa mengantuk. Sebuah kajian dalam Nutrients Journal (2017) menunjukkan bahwa L-theanine dapat mengurangkan hormon kortisol setelah paparan stres. Selain itu, EGCG dalam teh hijau membantu meningkatkan metabolisme dan pembakaran lemak.
- Teh Putih (White Tea): Kaya dengan polifenol yang bersifat antioksidan dan membantu mengurangkan peradangan akibat stres. Kajian di Journal of Nutrition & Metabolism (2019) menunjukkan teh putih dapat menghalang pembentukan sel lemak baru.
- Teh Merah (Rooibos): Mengandungi aspalathin, sejenis flavonoid unik. Kajian dari Planta Medica menemukan aspalathin dapat membantu mengurangkan hormon stres dan menstabilkan gula darah, yang secara tidak langsung mengurangkan keinginan untuk makan.
- Matcha: Gabungan unik L-theanine dan kafein semula jadi dalam matcha memberikan energi yang stabil tanpa “crash” seperti kopi. Kajian dalam Journal of Functional Foods (2020) menunjukkan matcha dapat menurunkan tahap kortisol setelah senaman berat.

Bagaimana Cinch Tea Membantu Mengurangkan Craving?
Cinch Tea bekerja melalui kombinasi bahan-bahan alaminya yang unik, yang masing-masing memiliki peran penting dalam menstabilkan tubuh dan pikiran.
- Mengurangkan Hormon Stres (Kortisol):
- Teh Hijau: Mengandungi L-theanine, sejenis asam amino yang membantu menenangkan otak tanpa menyebabkan rasa mengantuk. Sebuah kajian dalam Nutrients Journal (2017) menunjukkan bahwa L-theanine dapat mengurangkan hormon kortisol setelah paparan stres. Dengan menurunkan kortisol, Cinch Tea membantu meredakan dorongan emosional untuk makan yang dipicu oleh stres.
- Teh Merah (Rooibos): Kaya dengan aspalathin, sejenis flavonoid unik. Kajian dari Planta Medica menemukan aspalathin dapat membantu mengurangkan hormon stres dan menstabilkan gula darah. Stabilnya gula darah secara langsung mengurangi keinginan untuk makan makanan manis yang sering muncul saat stres.
- Meningkatkan Tenaga dan Fokus Tanpa Gula:
- Matcha: Mengandungi kombinasi unik L-theanine dan kafein semula jadi. Ini memberikan energi yang stabil dan meningkatkan fokus, tanpa efek “crash” yang sering terjadi setelah minum kopi atau minuman manis. Dengan energi yang stabil, tubuh tidak lagi merasa “terdesak” untuk mencari sumber energi cepat dari gula atau karbohidrat.
- Teh Putih (White Tea): Tinggi antioksidan polifenol yang membantu mengurangi peradangan akibat stres. Ini juga membantu menjaga tubuh dalam keadaan yang lebih seimbang, mengurangi kebutuhan untuk mencari “penghibur” dalam bentuk makanan tidak sehat.
- Meningkatkan Metabolisme dan Pembakaran Lemak:
- EGCG dalam teh hijau membantu meningkatkan metabolisme dan pembakaran lemak. Ini tidak hanya membantu dalam pengelolaan berat badan, tetapi juga menjaga tubuh agar tetap aktif dan berenergi, yang pada akhirnya mengurangi ketergantungan pada makanan sebagai sumber energi.

Hidup Bahagia Kawal Stres Kortisol
Stres adalah bagian dari kehidupan, tetapi kita bisa mengendalikan dampaknya pada tubuh. Dengan menggabungkan diet seimbang, gaya hidup aktif, dan bantuan herba semula jadi seperti dalam Cinch Tea, Anda tidak hanya dapat menurunkan kortisol, tetapi juga mengendalikan craving yang sering menghambat tujuan kesehatan Anda.
Mulailah langkah kecil hari ini untuk mendapatkan badan yang lebih ringan, pikiran yang tenang, dan selera makan yang terkontrol.